PENGARUH POLA ASUH PERMISIF ORANG TUA TERHADAP SELF-CONTROL (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim)

  • SELLA PUTRI ANI SELLA PUTRI ANI

Abstract

PENGARUH POLA ASUH PERMISIF ORANG TUA TERHADAP SELF-CONTROL (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim)


Oleh :


Sella Putri Ani1, Edi Harapan 2, Kurnia Sari3


Bimbingan dan Konseling, Universitas PGRI Palembang


sellaputriani00@gmail.com1, ehara205@gmail.com2, kurniasari@univpgri-palembang.ac.3.


 


ABSTRAK


Rendahnya self-control pada anak usia remaja di pengaruhi oleh faktor usia dan lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga terutama orangtua yang menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang. Apabila orangtua menerapkan pola asuh permisif bersikap acuh tak acuh (mengabaikan) maka akan menyebabkan anak usia remaja tidak mempunyai kontrol diri yang baik. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self-control studi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan bentuk desain korelasi sederhana. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 145 siswa. Sampel dari penelitian ini adalah berjumlah 50 siswa. Adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan sampling purposive. Dalam penelitian ini diketahui hasil analisis data angket variabel X (Pola Asuh Permisif) jumlah skor total 5644 dengan nilai rata-rata 113,12. Kemudian untuk variabel Y (Self-Control) jumlah skor total 5418 dengan nilai rata-rata 108,3. Selain itu hasil yang diperoleh korelasi product moment di dapatkan hasil r = 0,65 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan variabel yang diteliti. Sedangkan hasil perhitungan regresi linear sederhana  = 4,512 + 0,96. Selanjutnya, analisis hipotesis dengan menggunakan uji t di peroleh thitung sebesar 5,897 sedangkan ttabel  sebesar 1,670 karena thitung ?  ttabel  maka Ha diterima dan H0 ditolak, dengan kata lain adanya pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self-control studi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim.


 


Kata Kunci : Pola Asuh, Permisif, Self-Control.


 


 


ABSTRACT


 


       The low self-control in adolescents is influenced by age and family environment. Family environment, especially parents who determine how the ability to control oneself. If parents apply permissive parenting to be indifferent (ignoring) then it will cause teenagers do not have good self-control. This study aims to determine the effect of parental permissive parenting on self-control studies in eighth grade students of SMP Negeri 2 Rambang Muara Enim Regency. The method used is a quantitative method with a simple correlation design form. The population of this study was all students of class VIII, amounting to 145 students. The sample of this study were 50 students. The technique used in sampling in this study is to use purposive sampling. In this study the results of the analysis of the questionnaire data variable X (Permissive Parenting) total score of 5644 with an average value of 113.12. Then for the Y variable (Self-Control) the total score is 5418 with an average value of 108.3. In addition, the results obtained by product moment correlation obtained r = 0.65, which indicates that there is a relationship of variables studied. While the results of simple linear regression calculations ? = 4.512 + 0.96. Furthermore, hypothesis analysis using t test was obtained by tcount of 5.897 while ttable of 1.670 because tcount ? ttable then Ha was accepted and H0 was rejected, in other words the influence of parental permissive parenting on self-control studies in class VIII students of SMP Negeri 2 Rambang districts.


 


Keywords: Parenting, Permissive, Self-Control


 



  1. PENDAHULUAN


Pola asuh merupakan podasi awal pembentukan kepribadian anak yang didapat dari orangtuanya. Masing-masing orangtua memiliki cara tersendiri dalam mendidik anaknya. Setiap orangtua memiliki pandangan masing-masing dalam memilih pola asuh yang diterapkan kepada anak-nanaknya. Pola asuh mencakup bagaimana orang tua memelihara anak yang masih kecil, laki-laki ataupun perempuan, atau memelihara yang sudah besar tapi belum dewasa, menjaganya dari sesuatu yang menyakiti atau merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akal anak dengan sadar dan disertai dengan tanggung jawab agar mampu berdiri sendiri, membimbing anak agar dapat memikul tanggung jawab dalam hidupnya (Susanto, 2015). Pola asuh tersebut tentu akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Jika salah pilih penerapan pola asuh, kemungkinan akan menghasilkan anak yang tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri (self-control).


Ada dua dimensi dalam pola asuh permisif menurut Maccoby dan Martin (dalam Zahara, 2015) yaitu pola asuh permisif memanjakan. Pola asuh permisif memanjakan merupakan pola asuh ini mengandung undemanding dan responsive, dicirikan dengan orang tua yang terlalu membebaskan anak dalam segala hal tanpa adanya tuntutan maupun kontrol. Anak dibolehkan untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Biasanya mereka tidak terlalu banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada anaknya, karena orangtua dengan tipe ini cenderung memberikan kepercayaan penuh kepada anak untuk menentukan pilihannya, anak bebas mengekspresikan perasaan sesuai dengan keinginannya sehingga kebutuhan psikisnya tidak terganggu. Kedua menurut Santrock (Muin, 2015) pola asuh permisif tidak peduli (Permissive indifferent) adalah suatu pola asuh dimana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak, tipe pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak, khususnya kurang kendali diri. Pola pengasuhan ini menjauh (bersifat memusuhi) dan sangat permisif (terlalu membolehkan). Pola asuh ini berkaitan dengan perilaku sosial anak yang tidak cakap, teruma kurangnya pengendalian diri (self-control).


Calhoun dan Acocella (Intani, 2018) bahwa kontrol diri (self-control) adalah sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis dan perilaku seseorang, dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi kotrol diri seseorang biasanya disebabkan oleh banyak faktor. Menurut Ghufron & Risnawita (2017) mengenai faktor yang mempengaruhi kontrol diri terdiri dari dua, yaitu faktor internal dan eksternal.



  • Faktor internal yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah usia. Semakin bertambah usia seseorang, maka semakin baik kemampuan mengotrol diri seseorang itu.

  • Faktor Ekternal ini diantaranya adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluaraga terutama orang tua menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang.


Rendahnya self-control di kalangan remaja maka akan cenderung bertindak atau perilaku negatif, seperti perilaku bolos ketika jam pelajaran, terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan tugas, dan sebagiannya. Hal ini tentu saja bukan peristiwa yang biasa, sebab jika tidak dilakukan perhatian dan penanganan secara khusus, akan semakin bertambah kasus-kasus siswa membolos ketika jam pelajaran atau bahkan melakukan pelanggaran-pelanggaran tatatertib sekolah lainnya. Pravitasari (2012) menyatakan bahwa 30,6% perilaku membolos dipengaruhi oleh pola asuh permisif. Pola asuh permisif memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak, mereka tidak memberikan pengarahan dan penjelasan tentang apa yang sebaiknya dilakukan anak, akhirnya anak menunjukkan pengendalian diri yang buruk dan tidak bisa menangani kebebasan dengan baik, serta tidak memiliki kemampuan sosial. Akibatnya anak mengalami penyimpangan-penyimpangan perilaku, misalnya suka tidak masuk sekolah (membolos), tidak memakai atribut sekolah, tidak membuat pekerjaan rumah dan masih banyak lagi permasalahan yang tibul akibat kurang pengawasan dan bimbingan orangtua yang menerapkan pola asuh permisif.


Anak yang memiliki orangtua yang mengabaikan merasa bahwa aspek lain kehidupan orangtua lebih penting daripada diri mereka. Anak-anak cenderung tidak memiliki kemampuan sosial. Banyak diantaranya memiliki pengendalian diri (self-control) yang buruk dan tidak mandiri. Anak sering kali memiliki harga diri yang rendah, tidak dewasa, dan mungkin terasing dari keluarga dan berperilaku destruktif terhadap lingkungan sekitar. Rice (dalam Zahara, 2015), mengemukakan beberapa sikap orang tua yang kurang tepat yang mengganggu self control remaja, beberapa sikap orangtua tersebut meliputi: 1). Pengabaian fisik 2). Pengabaian emosional, 3). Pengabaian intelektual termasuk didalamnya kegagalan untuk memberikan pengalaman yang menstimulasi intelek remaja, 4). Pengabaian sosial, 5). Pengabaian moral. Kurangnya bimbingan orang tua terhadap anak  akan mengakibatkan anak beberapa permasalahan yang berkaitan dengan self-control. Kemampuan self-control yang rendah membuat remaja melakukan hal-hal yang kurang dapat diterima oleh lingkungan sekitar khususnya lingkungan sekolah, misalnya kurangnya kesopanan remaja pada guru dan personal lainnya, kurangnya etika dalam bergaul dengan teman-teman, menunjukkan sikap negatif, serta melanggar peraturan sekolah.


Dilihat dari  hasil observasi awal di SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim di peroleh bahwa terdapat beberapa siswa yang memiliki self–control yang rendah, sehingga siswa melakukan perilaku melanggar tata tertib sekolah seperti membolos ketika jam pelajaran, tidak mengerjakan tugas, terlambat datang ke sekolah dan terjadi perkelahian. Berdasarkan penjelasan teori di atas Asumsi peneliti adalah salah satu penyebab rendahnya self-control di usia remaja adalah pola asuh permisif dari orangtua siswa yang terlalu memberikan kebebasan kepada anak. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti masalah rendahnya self-control disebabkan pola asuh permisif orangtua sehingga ditemukannya cara untuk mengatasi masalah siswa yang berkaitan dengan rendahnya self-control.


Permasalahan yang terlihat pada hasil penelitian awal tersebut memberikan ketertarikan pada peneliti untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self control (studi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim).


 



  1. METODE PENELITIAN


Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi. Variabel bebas dalam penelitian ini pola asuh permisif orang tua, sedangkan variabel tergantungnya yaitu self-control.


Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Karakteristik populasi yang diambil adalah siswa yang bersekolah di SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim yang memiliki self-control rendah dengan mendapat pola asuh permisif. P Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 145 siswa. Sampel dari penelitian ini adalah berjumlah 50 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa angket skala Likert yaitu angket pola asuh permisif dan skala persepsi self-control.


 



  1. HASIL DAN PEMBAHASAN


Skor pola asuh permisif di peroleh dari penyebaran kuesioner dengan item sebanyak 30 item dengan skor 1-5, sehingga nilai tertinggi ideal sebesar 30 x 5 = 150. Berdasarkan rentang skor tersebur, maka standar deviasi ideal sebesar (113,12) : 6 = 18,85 dan mean ideal = (113,12: 2) + 50 = 106,56.


 


 


Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Pola Asuh Permisif






Kriteria




F




%






Sangat Tinggi




11




22%






Tinggi




10




20%






Sedang




13




26%






Rendah




8




16%






Sangat Rendah




8




16%






Jumlah




50




100






 


Berdasarkan tabel 1, di atas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan pola asuh permisif berada pada kategori sedang dengan persentase 26%. Disamping itu kategori sangar rendah sebanyak 8 orang (16%).


Skor self contol di peroleh dari penyebaran kuesioner dengan item sebanyak 30 item dengan skor 1-5, sehingga nilai tertinggi ideal sebesar 30 x 5 = 150. Berdasarkan rentang skor tersebur, maka standar deviasi ideal sebesar (108,3) : 6 = 18,5 dan mean ideal = (108,3 : 2) + 50 = 104,15.


Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Self Control






Kriteria




F




%






Sangat Tinggi




10




19%






Tinggi




12




23%






Sedang




13




25%






Rendah




9




17%






Sangat Rendah




8




16%






Jumlah




50




100






 




 




 






 


Berdasarkan tabel 2, di atas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan self-contol berada pada kategori sedang dengan persentase 25%. Di samping itu kategori sangaT rendah sebanyak 8 orang (16%).


 


Tabel 3. Rangkuman Hasil Uji Korelasi Pola Asuh Permisif Dan Self-Control.






Aspek




N




thitung




ttabel




Kesimpulan






X


Y




50 -1 =49




5,897




1,670




Berkorelasi






 




 




 




 




 






Setelah diperoleh harga thitung selanjutnya dikonsultasikan dengan harga kritik ttabel yaitu dengan mengkonsultasikan thitung dengan ttabel untuk ? = 0,05 dengan kebebasan (dk) = 50-1 = 49, maka dicari pada tabel txy didapat ttabel = 1,670 dengan kriteria pengujian sebagai berikut. Tolak Ha tidak terdapat pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self control pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim. Kriteria selanjutnya adalah Ha bila thitung ? ttabel berarti tolak Ho, terdapat pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self control pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim. Ternyata thitung ? ttabel atau 5,897  ?  1,670. Hasil tersebut menjelaskan bahwa ada  pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self-control pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim diterima kebenararnya. Jadi nilai koefisien determinasi pada regresi adalah 42,45 %. Dengan nilai koefisien Determinasi pada regresi yang positif maka terdapat pengaruh pola asuh permisif orang tua terhadap self control (studi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim).


Pengaruh pola asuh permisif orangtua terhadap self-control sebesar 5,897 termasuk dalam kategori cukup tinggi. Dikatakan kategori tinggi karena pola asuh permisif orang tua merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya self-control pada siswa, dan faktor yang mempengaruhi self-control lainnya yaitu dari dalam diri individu dan lingkungan individu. Menurut Logue (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan self-control yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan tersebut termasuk di dalamnya adalah pola asuh orangtua. Orangtua adalah orang pertama yang membentuk self-control pada anak. Anak akan belajar dari bagaimana orangtua bersikap dan berperilaku kepada anak dalam kehidupan sehari-hari termasuk pola asuh yang digunakan. Sejalan dengan hasil penelitian Hartini, dkk (2015) bahwa semakin remaja mempersepsikan pola asuh orangtua sebagai pola asuh permisif maka semakin rendah kontrol diri remaja tersebut.


Siswa yang mempersepsi orang tuanya tidak memberikan pola asuh permisif akan memberikan sikap yang positif yaitu cenderung lebih berhati-hati dalam berfikir dan bertindak karena mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orangtua mereka yang selalu memperhatikan dan menjaga mereka. Sebaliknya, siswa yang mempersepsi orang tuanya memberikan pola asuh permisif mereka cenderung bersikap negatif karena mereka merasa tidak diawasi dan tidak dikontrol oleh orangtua. Orangtua permisif memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak, mereka tidak memberikan pengarahan dan penjelasan tentang apa yang sebaiknya dilakukan anak, akhirnya anak menunjukkan pengendalian diri yang buruk dan tidak bisa menangani kebebasan dengan baik, serta tidak memiliki kemampuan sosial. Akibatnya anak mengalami penyimpangan-penyimpangan perilaku, misalnya suka tidak masuk sekolah (membolos) dan kenakalan remaja.


Perilaku demikian tentu saja menjadi tanggung jawab dari pihak sekolah khususnya Guru Bimbingan dan Konseling untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan dari pola asuh orangtua yang permisif yang menimbulkan dampak negatif pada siswa yaitu siswa memiliki self-control yang rendah sehingga rentan terjadi perilaku yang melanggar peraturan sekolah. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memberikan layanan konseling, baik bersifat prefentif maupun kuratif. Self-control individu dapat ditingkatkan melalui setting kelompok (Logue, 1995). Berdasarkan pendapat tersebut, Layanan bimbingan kelompok menjadi cara yang tepat untuk mengembangkan self-control siswa. Selanjutnya Guru BK juga dapat bekerjasama dengan pihak sekolah untuk dapat mendukung kegiatan BK dengan memberikan sarana dan prasarana kegiatan kerjasama dengan orangtua siswa. Teknik yang dapat digunakan dalam program self-control salah satunya adalah modeling (Martin & Pear, 1992). Orangtua dapat menjadi model dalam kehidupan sehari hari siswa dalam merespon dan menanggapi berbagai hal yang bersifat emosional. Maka dari itu perlunya kerja sama dengan orangtua siswa untuk menyelesaikan permasalahan self-control.


 


 


 


 


DAFTAR PUSTAKA


Gufron, M & Risnawita, R. (2017). Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta: AR-Ruzz Media.


 


Hartini Nurul & Wulaningsi Ratna. Hubungan antara Persepsi Pola Asuh Orang Tua dan Kontrol Diri Remaja terhadap Prilaku Merokok di Pondok Pesantren. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. 2015 ; 4 (2). 124.


Intani, Putri Citra. Hubungan Kontrol Diri dengan Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Psikologi. 2018 ; 4 (2).66.


Logue A. W. (1995). Self-control: Waiting until tomorrow for what you want today. New York: Prentic Hall.  [Google Scholar]


Martin & Pear. (1992). Behavior Modification: What it is and How To Do it. USA: Prentice-Hall International, Inc.


Muin, Salwa. Peran Pola Asuh Permisif, Iklim Sekolah, dan Motivasi Berprestasi Terhadap Perilaku Membolos Siswa.  Jurnal Psikologi. 2015 ; 4 (2).  96-97.


Pravitasari, Titis. Pengaruh Persepsi Pola Asuh Permisif Orang Tua terhadap Perilaku Membolos. Semarang: Universitas Negeri Semarang. (Jurnal Psikologi. 2012 ; 1(1). 6-7.


Susanto, Ahmad. 2015. Bimbingan Konseling di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Prenadmedia Group.


Zahara, Hanan Fidia. Pengaruh Self Control, Komunikasi Interpersonal, dan Pola Asuh Permisif terhadap Game Online pada Remaja. Skripsi Universitas Syarif Hidatullah Jakarta. 2015 ; 29-31.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Published
2020-06-30
How to Cite
ANI, SELLA PUTRI. PENGARUH POLA ASUH PERMISIF ORANG TUA TERHADAP SELF-CONTROL (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Rambang Kabupaten Muara Enim). Psikodidaktika: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, [S.l.], v. 5, n. 1, p. 56-64, june 2020. ISSN 2615-3297. Available at: <https://journals.unihaz.ac.id/index.php/psikodidaktika/article/view/986>. Date accessed: 27 oct. 2020. doi: https://doi.org/10.32663/psikodidaktika.v5i1.986.