REVITALISASI SISTEM KONTROL SOSIAL FOMO BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI SUBJECTIVE WEEL-BEING (SWB) DAN JOY OF MISSING OUT (JOMO)
DOI:
https://doi.org/10.32663/czx5df45Kata Kunci:
Fomo, Jomo, Revitalisasi, Social Well-beingAbstrak
Fase masyarakat industri 4.0 dan 5.0 mengandung persaingan yang semakin ketat. Era society digital, supra informasi cepat mendorong terjadinya pola fikir dan tindakan agar memiliki keunggulan kompetitif dan menciptkan FoMO berupa ketakutan perasaan "tertinggal" beraktivitas tertentu, perasaan cemas dan takut melewatkan hal baru. Rasa takut berkaitan pandangan orang lain lebih bahagia, menarik, sukses karena memiliki kehidupan/profesi yang lebih baik. Media sosial, seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan Twitter, platform ini berfungsi sebagai wadah utama di mana FOMO berkembang. Tujuan dari penelitian ini adalah Revitalisasi Sistem Kontrol Sosial FOMO berbasis Kearifan Lokal Melalui Subjective Weel-Being dan Joy of Missing Out (JoMO) untuk menganalisa hubungan antara FOMO dengan JOMO dan social well-being. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deksriptif Kuantitaif. Hasil penelitian ini menunjukan skor hipotetik dari kedua variabel penelitian dengan skor mean empirik pada variabel Fomo lebih rendah dari mean hipotetik yaitu 84 < 78. Hal ini menujukkan subjek penelitian memiliki Fomo yang lebih tinggi dari dugaan penelitian ini dan tergolong kategori Tinggi. Sama hal dengan skor mean empirik joy of missing out yang lebih tinggi dari pada skor hipotetik yaitu 94 > 88. Artinya, subjek penelitian memiliki joy of missing out yang rendah dari dugaan alat ukur dan tergolong kategori sedang. Self Welbeing Juga Menunjukan Skor Empirik lebih besar daripada Hipotetik 90,5>84 hal ini menunjukan ada hubungan Sel Welbeing terhadap Fomo dan Jomo Dengan demikian bahwa ada keterkaitan antara FOMO, JOMO dan Social Well-Being dalam revitaliasi control social pada masyarakat.

